Feeds:
Tulisan
Komentar

Malam itu

Sampai menjelang akhir Ramadahan saya masih biasa-biasa aja, gak punya anggapan apapun terhadap malam itu. Hanya suatu ketika di malam tanggal 29 dan puncakanya tanggal 4 Syawal pikiran ini jauh melayang teringat malam itu. Ya malam itu adalah malam tanggal 25 ramadhan!! ‘itikaf di habiburrahman menjadi keputusan aktivitas malam itu bersama dengan teman, sahabat sekaligus saudara tercinta. malam yang begitu sangat indah dan akan sangat rugi jika dilewatkan begitu saja, sebuah malam yang penuh kesyahduan syahdu akan cinta dan rindu kepadaNya. di sekitaran masjid penuh denagn orang-orang sholeh yang khusuk beribadah padaNya, banyak pasangan muda yang sedang berduaan di pojok beranda masjid sedang tilawah bareng bahkan ada yang sedang melakukan shloat malam berdua.

sebuah pemandangan yang begitu asing di amta saya namun terasa sejuk di qolbu ini, denagn sangat cermat hati dan pikiran ini menerawang mengingat-ingat kembali kejadian itu dimana hati ini pun merasakan karinduan agar bisa seperti mereka. ya!! hati dan jiwa ini merindukan pendamping yang bisa diajak ‘itikaf saat ramadhan, seorang pasangan yang begitu sholehah sehingga mata ini tak akan pernah menatap wajahnya selain cahaya iman yang terpancar, hati ini tak bisa merasa selain rasa kasih, sayang dan cinta yang syahdu sebagai luapan syukur untuk mendapat ridhoNya.

Hari ini hati ini pun tak bisa berhenti menerawang kesyahduan malam itu, sebuah malam yang kuat akan sebuah rasa yang menggelora dalam qobu sehingga mampu membuat mata ini menangis karena takut tak mendapat cintaNya. kini saya hanya bisa melantunkan doa padaNya semoga apa segala gundah yang terjadi di qolbu ini tergantikan oleh rasa cintaNya pada say seorang.

Rabb hanya engkaulah yang mengetahui apa yang ada dalam hati ini, jika engkau ridho padanya persatukan kami di waktu yang tepat agar mampu merentas jalan menuju syrgaMu!!!

T’masuk yang Manakah Saya?

Di jaman kekhalifahan Umar bin Khatab ada seorang musafir yang sangat kelelahan karena telah melakukan perjalanan yang teramat jauh sekalipun ia menunggang unta, saking capeknya ia memutuskan untuk beristirahat tepat dibawah rindangnya pohon kurma, setelah ia menambatkan tali kekang unta dan minum secukupnya akhirnya ia tertidur, bahkan tidurnya sangat lelap sekali sehinga ia tidak merasakan hari sudah pagi. Ketika ia bangun ia terperanjat melihat unta miliknya sudah tidak berada lagi di tempat semula, dengan cemas ia mencari ke setiap penjuru kampung sedangkan si unta tengah merusak sebuah kebun anggur milik penduduk sekitar. Dengan susah payah ia berhasil menemukan unta miliknya sedang memakan buah anggur dan ia pun bertambah kaget saat melihat kebun anggur tersebut porak poranda, sambil mengendap-ngendap ia tarik untanya keluar dari kebun anggur, namun malang karena sang pemilik kebun keburu mengetahui dan mencegat ia dengan menggertak “apa yang telah engkau dan untamu lakukan di kebunku sampai hancur begini?”, saking kagetnya ia pun menonjok yang punya kebun hingga meninggal dunia. Saat ia akan melarikan diri datang dua orang pemuda yang ternyata adalah anak pemilik kebun , mengetahui ayahnya meninggal karena kelakuan musafir tersebut akhirnya mereka bersepakat untuk mengajukan Qishas kepada Khalifah Umar di kediamannya.

Singkat cerita mereka bertiga sampai di tempat Umar, setelah bertemu langsung dengan Umar akhirnya pemuda itu berkata ” Khalifah Umar yang kami hormati, sesungguhnya orang ini telah merusak kebun anggur milik bapak kami dan kemudian ketika bapak kami mengetahui perbuatannya ia menghajar bapak kami sampai meninggal, kini kami meminta keadilan darah dibayar dengan darah dan nyawa dibayar dengan nyawa, kami meminta Qishas tehadap perbuatannya itu” dengan tenang Umar bertanya kepada kedua pemuda tadi ” adakah saksi lain selain kalian yang mengetahui kejadian tersebut?” pemuda itu pun menjawab “tidak ada ya Umar” Khalifah pun melanjutkan perkataannya “kalau memang tidak ada saksi yang lain saya tidak bisa menjatuhkan hukuman kepada orang ini” tiba-tiba musafir ini pun angkat bicara “wahai baginda khalifah Umar demi Allah apa yang disampaikan mereka benar dan saya siap menanggung apa yang mereka tuntutkan pada hamba” setelah berpikir sejenak Khalifah melanjutkan pemutusan kasus ini ” baiklah jika kamu sudah menyadari dan mengakui apa yang telah kamu perbuat terhadap bapak kedua pemuda ini, maka saya Khalifah Umar bin Khatab memutuskan hukuman pancung bagimu, adakah permohonan terakhir yang bisa kami lakukan bagimu?” dengan tenang ia menjawab ” beri saya waktu tiga hari untuk pulang ke kampung saya, ijinkan saya menunaikan kewajiban saya yang tertunda serta hutang yang harus saya lunasi terlebih dahulu”, “adakah yang bisa menjamin dirimu selama kamu pulang” tanya Khalifah “tidak ada wahai baginda, hamba hanyalah seorang musafir yang sedang dalam perjalanan menuju kota di sebalah sana, kota ini bukan tujuan hamba sehingga tidak ada seorang pun sanak famili di sini” jawab musafir, kemudian khalifah melanjutkan pembicaraannya “jika tidak ada orang yang bisa jadi jaminan maka aku tidak akan mengijinkanmu pulang” tiba-tiba ada salah seorang sahabat Rasul yang sejak tadi mengikuti persidangan tersebut mengangkat tangan seraya bicara “wahai baginda akulah Abu Dzar Alghifari yang akan menjamin dia”. Tanpa panjang lebar lagi akhirnya ia diijinkan pulang oleh khalifah dengan jaminan Abu Dzar, artinya pada saat yang ditentukan eksekusi hukuman ia tidak datang maka Abu Dzarlah yang akan di pancung.

Hari yang dinantipun tiba, tiga hari sudah berlalu dari masa pemutusan keputusan hukum pancung. semua orang sudah berkumpul tepat di tengah-tengah kota, tak terkecuali dua pemuda dan Abu Dzar Alghifari. setalah cukup lama menunggu orang yang akan dipancung ternyata tidak kunjung datang sehingga akhirnya khalifah Umar berkata “orang yang kita tunggu ternyta telah berkhianat sadari tadi kita menunggu ia masih belum datang juga, maka yang akan dieksekusi pancung adalah Abu Dzar Alghifari karena dialah orang yang menjamin terpidana itu”. semua menahan isak tangis dimata, seorang sahabat rasul akan dipancung hanya karena menjamin seorang yang tidak ia kenal, semua perlengkapan telah disiapkan algojo tengah bersiap-siap untuk memancung kepala Abu Dzar, sedangkan Abu sendiri berlutut bersampingan dengan algojo. Ketika algojo mengangkat pedangnya tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang kerumunan,”tahan, tahan pedang itu, jangan kau pancung dia, karena akulah yang kalian tunggu!” semua terhenyak kaget sambil melihat kebelakan g mereka menyaksikan seseorang yang menaiki kuda sedang berlari menuju kerumunan itu. “wahai baginda, maafkanlah atas keterlambatan hamba yang hampir membunuh saudara hamba ini”, Umar menjawab “sudahlah sekarang kau gantikan posisi Abu dan bersiaplah untuk dipancung”, Ketika posisi pedang algojgo sama seperti tadi kedua pemuda itu berteriak “tahan,tahan pedangmu wahai algojo!!, wahai baginda demi Allah kami mencabut semua tuntutan kami dan memaafkan atas perbuatan yang telah ia lakukan kepada bapak kami, sekarang kami mohon lepaskanlah ia”.

Singkat cerita dia dilepaskan dengan raut muka yang menyimpan perasaan aneh dan takjub Khalifah Umar bertanya, “wahai saudaraku apa yang membuat engkau kembali? padahal jika engkau kabur pun tentu tidak ada satupun yang dapat menemukanmu”,”baginda saya kembali kesini agar tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa di dunia ini tidak ada lagi orang yang dapat dipercaya sedang sesungguhnya mereka ada yang salah satunya ialah aku” jawab musafir kepada Umar. “lalu engkau Abu Dzar, apa yang membuatmu berani menjamin dia? sedangkan dia bukan sahabatmu apalagi sanak familimu, bahkan engkau sendiri tidak mengenalnya dan belum pernah bertemu sebelumnya”,”Ya Khalifah aku berlaku seperti itu agar tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa di dunia ini tidak ada lagi saudara yang berani berkorban demi saudaranya sedang sesungguhnya mereka ada yang salah satunya ialah aku” jawab Abu Dzar dengan lantang, “lalu engkau hai pemuda, apa yang membuatmu memaafkan atas tindakannya padahal ia telah membunuh bapakmu?”, “baginda kami berlaku seperti itu agar tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa di dunia ini tidak ada lagi saudara yang berani memaafkan atas kesalahan saudaranya sedang mereka ada yang salah satunya ialah aku”.

Sahabat yang berbahagia, pertanyaan terpenting dari kisah tadi adalah ada di manakah posisi kita sebenarnya? apakah ada di tingkat berani bertanggung jawab dan pantang berkhianat atau di tingkat rela berkorban dan menanggung saudara atau ada di tingkat berani memaafkan kesalah mereka ataukah justru tidak dimana pun? apa yang kita miliki saat ini tidak akan pernah ada gunanya jika sahabat dan saudara kita justru menjadi musuh terdekat kita. Semoga Allah swt senatiasa memberikan petunjuk kepada kita semua agar termasuk kedalam salah satu tingkatan persaudaraan tadi. Amin……….

Alam Cinta Manusia

Minggu kemarin tepatnya tanggal 7 s.d. 9 September Allah swt memberikan kesempatan bagi saya yang sangat luar biasa, saya hadir dalam acara ospek jurusan saya di Buper Kiara Payung Jatinangor. mungkin sebagian orang berpendapat apa sih istimewanya ada di sana? sahabat bagi saya itu merupakan hal yang sangat luar biasa, karena apa? karena sudah 3 kali saya mengikuti acara tersebut acara tahun inilah yang paling berkesan bagi saya! betapa tidak, dulu tahun 2005 saat saya pertama kali ikut ospek saya jadi peserta saya gak ngerti apa itu ospek, yang saya tahu ospek hanyalah pembodohan akhirnya karena penuh prasangka saya jadi gak bisa menikmati acara itu. setahun kemudian di tahun 2006 saya jadi panitia emangsih udah mulai ngerasaiin nikmatnya ospek tapi terhalangi oleh capeknya jadi panitia, tahun ini ya tahun 2007 saya gak jadi lagi panitia di lapangan, sekarang jadi penganggung jawab acara walaupun badan gak capek tetep aja pikiran mah capek karena beban tanggung jawab mahasiswa baru ada di pundak saya.

Awalanya saya pun gak merasakan kenikmatan itu, kenikmatan itu saya rasakan pada saat malam terakhir. waktu itu malam minggu karena acara puncak panitia mengundang alumni dari angkatan pertama sampai yang baru lulus, acara diadakan di alam terbuka beratapkan langit yang hitam pekat tanpa dihiasi bingtang satupun, Subhanallah!!!!!! itulah yang terucap diqolbu ini,pada hari sabtu pagi ba’da shubuh saya diberikan kesempatan untuk memberikan kuliah shubuh tepat menghadap ke timur dimana matahari terbit dari balik bukit dan gunung yang ada disekitar Kiara Payung. Sangat luar biasa menyaksikan anugerah Allah yaitu melihat matahari yang perlahan-perlahan mulai naik, semburat merah kekuningan sang fajar mulai muncul silih bersautan burung bahkan sayup suara ayam di perkampungan dari kejauhan terdengar indah. saat itu hati saya bener-bener berdecak kagum, kalau saja gak ditahan air mata pun mulai meleleh dari kedua mata ini. ya Allah betapa ternyata alam ini sangat mencintai kami manusia sebagai hamba-Mu!!,sahabat ekspresi cinta yang luar biasa itu tanpa pernah ragu senantiasa diekspresikan alam untuk kita. sayang keanggkuhan kita dan seringnya kita tidur setelah shubuh menyebabkan kita gak bisa melihat bagaimana alam mencintai kita dikala pagi.

Malam puncak dikahiri dengan api unggun dan renungan malam, saat itu dosen yang akan diminta mengisi sudah pulang duluan akhirnya panitia meminta saya untuk memimpin acara itu, saat prosesi dimulai saya membacakan terjemahan dari surat As-Syam ayat 1-10, betapa sangat luar biasa mengungkapkan rasa syukur dihati di depan api unggun yang menyala dikelilingi Peserta, panitia, mahasiswa dan alumni tanpa ragu saya menyampaikan semua itu sebagai ungkapan cinta ini kepada alam raya yang telah menaungi manusia tanpa pernah merasa lelah mereka tunduk patuh kepada Allah swt Rabb yang menciptakannya dan yang menciptakan kita juga. sungguh sangat keterlaluan jika ada manusia yang mengingkari keberadaan Allah swt sedangkan Alam raya ini saja begitu tunduk patuh kepada-Nya!!!!

Wahai Matahari yang senatiasa terbit saat pagi hari

Wahai bulan yang mengitari bumi tanpa pernah henti

Wahai siang yang selalu datang tanpa pernah terlambat sedetikpun

Wahai Malam yang memberikan ketenangan pada setiap makluk di bumi

Wahai langit serta seluruh yang ada di sekitarnya

Sampaikan lah pada Rabbmu bahwa hamba sangat mencintaimu

cinta hamba pada mu adalah semata-mata karena cinta hamba pada yang minciptakanmu

Dialah Allah yang Esa yang sangat Hamba Cintai.

Cangkir Kebahagiaan

Setiap orang ingin bahagia
setiap orang ingin membahagiakan
setiap orang ingin dibahgiakan
setiap orang memiliki cangkir kebahagiaan

berapa besarkah cangkir kebahagian milik kita?
dan berapa seringkah cangkir itu kita isi?
seberapa sering pula kita tuangkan isi cangkir kita itu kepada cangkir orang lain?

setiap orang punya kapasitas dalam cangkirnya?
dan setiap orang pula merindukan cangkir itu penuh berisi kebahagiaan
saat sudah penuh apa yang kita lakukan?

sejatinya kabahgiaan yang kekal adalah saat cangkir kebahagiaan milik kita penuh, kemudian kita tuangkan ke dalam cangkir orang lain.

dalam sepanjang kehidupan kita tentu kita sering menyakiti hati orang lain, terasa maupun tidak kita rasakan. lisan ini, tubuh ini, berpotensi pernah melukai perasaan orang lain.

sahabat tahukah engkau?
bahwa saat kita melukai hati orang lain itu sebenarnya kita sedang mengambil secara paksa isi cangkir kebahagian yang ia miliki.

Astagfirullah, maafkan saya wahai sahabat jika selama ini cangkir kebahagiannmu kosong karena sering saya ambil secara paksa.

Keadilan

Semua orang merasa penting untuk diperlakukan adil, walau dirinya sendiri kadang tidak berbuat adil. sepenting apakah keadilan itu? hingga setiap orang selalu mengaitakan kata ini denagn kata apapun: pemimpin adil, hukum adil, negara adil, dan adil-adil yang lainnya, bahkan dalam dasar negara kita pun Pancisila Keadilan menjadi ahl yang yang tidak terlewatkan yaitu Keadilan Sosial, jadi apa sebenarnya keadilan itu????sampai terdapat dalam dasar negara Indonesia.

Kata orang sebenarnya adil atau keadilan itu memiliki arti yang sebenarnya sangat sederhana yaitu menmpatkan seseuatu pada tempatnya. kalau menurut saya sich adil itu mampu melaksanakan kewajiban dan tidak mendahulukan hak. misalnya kewajiban kita adalah membuat bahagia saudara pasti sekalipun kita disakiti kita tidak akan lantas marah begitu saja karena tentu membuat dia bahagia tanpa tersinggung itu kewajiban kita daripada membalas kesakitahatian itu yang merupakan hak kita. selintas emang terlihat mudah dan gampang tapi sebenarnya susah lho, susah banget tapi susah nya cuma diawal lama-kelamaan sih enggak justru jadi enak banget bisa berbuat adil….

Kenapa menjadi terlihat susah karena akan bersinggungan langsung denagn ego kita, setiap manusia itu itu memiliki ego yang kalau kata Sigmund Freud (benar gak yach nulisnya??) mah manusia itu terdiri atas Id, Ego dan Super Ego, nah katanya ke 3 hal ini harus berjalan secara dinamis dalam peran dan fungsi masing-masing. jika ada salah satu aja yang tidak berkembang dengan baik maka akan runyam tuch kepribadian manusia yang dalam kata istilah nya dia Deviab Behavior alias kepribadian menyimpang. misalnya, seseorang menuntut kita untuk berbuat adil dengan mendahulukan kewajiban dari pada menuntut hak kita saat itu ego yang menuntut sedang bermain mengahadapi kita sedangkan kita sendiri pun berusaha menganggapinya, karena kita juga punya ego maka kita hadapi juga denagn ego yang melerainya adalah super ego karena super ego inilah yang yang memberikan pertimbangan-pertimbangan sebelum akhirnya ego memutuskan perkara. begiltulah kiranya proses itu terjadi dalam diri kita jika padaa saat itu super ego tidak mampu bekerja denagn baik maka ego akan bekerja dengan sendirnya yang manghasilkan sikap defensif (menyerang).

terlepas dari benar dan tidaknya, namun kita bisa menyadari hal itu bahwa ternyata banyak sekali sikap kita yang mungkin masih belum menggunakan prinsip-prinsip keadilan tadi, mungkin hal yang harus kita lakukan saat ini adalah bagaimana memberikan tabungan nilai yang banyak untuk super ego kita sehingga ketika ego akan mengeksekusi sesuatu kita bisa menjadi manusia yang bijak dan fleksibel serta mampu berempati pada orang lain. jadi kalau menurut saya jangan berbicara keadilan kalau sikap empati saja tidak dia miliki karena bearti apa yang ia sampaikan tidak berdasar pada sifat keadilan yang sebenaranya!!!!!! tapi tentu keadilan yang dimaksud di sini bukanlah keadilan yang diputuskan oleh hakim di meja hijau, karena kalau penjelasan tadi dipakai oleh hakim pengadilan wahhhhh bisa runyam tu urusan!!!!!!!.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »